Selasa, 22 Januari 2013

Cerpen: HUJAN DI JANUARI


HUJAN DI JANUARI

 

   Memang benar kata orang bahwa hujan sering membawa berkah bagi penghuni dunia ini. Namun karena hujan, musibah sering menghantam kota Jakarta tercinta ini. Apalagi sekarang, cuaca tidak bisa diprediksi lagi. Dulu musim hujan diperkirakan pada bulan September sampai Desember. Namun di bulan Januaripun musim hujan masih mengguyur tanah air tercinta ini.

    Sehingga ibu kota tercinta ini terendam air yang mengakibatkan tersendatnya orang dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Seperti sekarang Dara mudiana berdiri termangun menatap air hujan dari jendelanya membasahi halaman rumahnya.

    Sesekali Dara melihat jam tangannya yang melekat ditangan kirinya. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul. 06.30 menit. Dara tersentak,”Ya ampun kalau caranya begini bisa terlambat sampai dikantor.” Gimana ini?hatinya berdesir.

    Saat Dara sedang bolak-balik melihat kearah jendela, bundanya dari dalam menghampiri Dara yang sedang kalut. “Oya Ra, kok akhir-akhir ini Ergi jarang main kerumah? Biasanya rajin jemput kamu. Apalagi saat musim hujan kaya gini. Emang Ergi kemana?”tanya bundanya.

    Dengan ringan Dara menjawab pertanyaan bundanya,”Emangnya aku mamanya,”ketus Dara.
    “Begini nih…anak sekarang kalau ditanya selalu jawabannya enggak ngenakin ati. Em…padahal kalau masih ada Ergi, kamu enggak bakal terlambat pergi kekantor. Ada ojek gratis,”cetus Bundanya sebelum berlalu dari hadapan Dara.

    Sesaat Dara berpikir bahwa kata-kata bundanya ada benarnya. Tetapi bila Dara mengingat sebulan yang lalu Ergi menyatakan perasaannya kepada Dara bahwa dirinya menginginkan lebih dari persahabatan. Itu membuat Dara menjauhi Ergi. Dara sadar bahwa laki-laki dan perempuan tidak mungkin bisa jadi sahabat, pasti diantara salah satu dari mereka ada yang jatuh cinta. Sebenarnya didalam lubuk hatinya yang terdalam Dara sangat merindukan sosok Ergi yang humoris, perhatian, dan selalu ada buatnya.

    Dilihatnya ponsel yang berada digengaman tangannya. Sesaat Dara memperhatikan gantungan yang berinisial huruf namanya dan nama Ergi. Tanpa sadar senyum tipis mengembang dibibirnya saat Dara mengingat peristiwa yang lucu, sewaktu membeli gantungan itu di Mall.

***

    Biasanya sepulang kantor, Dara dan rekan kerjanya jalan-jalan ke Mall yang berada tak jauh dari kantornya. Mall Kepala Gadingpun sering dijadikan tempat nongkrong Dara bersama rekan kerjanya untuk melepaskan penat sehabis bekerja.

    Kebiasaan seorang wanita kalau berada dipusat pembelanjaan pasti lupa waktu. Apalagi melihat barang-barang seperti pakaian yang sedang ngetren, sepatu model sekarang dan tas yang bermerek, tidak luput dari pandangannya. Tak jarang teman-teman Dara merogoh koceknya demi mendapatkan barang-barang yang sedang ngetren dikalangan dunia feyen. Tapi tidak dengan Dara, Dara lebih menyukai asesoris seperti anting, gelang, jepitan, dan bros yang bentuknya unik.

    Setelah makan di food court, Dara dan rekan kerjanya menuju kebioskop yang tidak jauh dari food court. Dara dan rekan kerjanya, Tini seorang manager marketing menyelusuri beberapa conter yaitu conter adidas, conter pakaian, dan gramedia. Saat Bioskop sudah terlihat dari kejauhan, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatian Dara. Darapun memutar balik tubuhnya dan memasuki toko bernuansa pink yaitu conter asesoris.

    Tini pun hanya bisa mengikuti temannya yang memang pengila barang-barang asesoris. Setibanya didalam, Dara melihat-lihat beberapa asesoris yang ingin ia beli nantinya. Sedangkan Tini yang sejatinya tidak begitu menyukai asesoris, iapun mencari kesibukan dengan face bookkan dihp blackberry bold 9000 miliknya.

    Saat Tini sedang asik mengomentari status temannya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara teriakan dari Dara,”Tini akhirnya dapat juga!”serunya sambil tangannya menunjukkan sebuah gantungan yang berinisial namanya dan nama Ergi.

    Dahi Tini mengkerut. Sekilas melihat gantungan yang berada ditangan Dara ,”So?”tanya Tini.
    “Ya akhirnya apa yang aku cari ketemu,”katanya dengan mata berbinar.
    “Tunggu, jadi selama ini kamu sering keluar masuk ke toko asesoris cuma nyari gantungan seperti itu?”

    Dara menganggut-anggutkan kepalanya. Tinipun hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya yang begitu pengila asesoris. Lalu Tinipun melanjutkan facebook kan. Sementara Dara menuju ke tempat kasir. untuk membayar gantungan hp yang hendak dibelinya.

    Saat ingin membayar, tiba-tiba dompet Dara yang ada didalam tasnya hilang. Dara panik setengah mati. Diobrak-abrik seisi tasnya. Ada alat-alat makeup, file, tissue, iPhone 3G, VCD, dompet isi koin, hp blackberry bold tipe 9000, dan kertas struk makan di KFC.
“Aduuh…gimana ini?”keluh Dara. “Sebentar ya mba?”ujarnya sambil melirik kearah pegawai kasirnya.

    Dalam keadaan kalut, Dara hanya mengingat satu nama yaitu Ergi. Diambilnya hp dari dalam tasnya. Tangannya langsung menekan nomor Ergi. Tak lama Ergi langsung menjawab telepon Dara,”Ada apa dara?”tanya Ergi 
“Ergi kamu bisa kesini enggak?”tanya Dara dengan raut cemas.
“Gimana ya? Aku lagi servis mobil punya pak Yuda dan nanti sore harus sudah selesai diperbaiki.”
“Kamukan bosnya jadi tinggal perintah anak buah kamu, beres kan?”
“Masalahnya Pak Yuda maunya aku yang menservis mobilnya. Dan aku enggak mungkin nolak karena Pak Yuda adalah customer tetap di bengkel aku.”
“Oh gitu ya. Katanya Sahabat tapi baru dimintain tolong aja udah nolak,”ujar Dara.
“Iya tunggu sebentar ya?”
“Sekarang, soalnya penting. Ini menyangkut hidup dan mati aku. Kamu datang ke Mall KG lantai dua di toko asesoris. Aku tunggu,Cepetan! Awas lama,”pinta Dara.

Saat Ergi ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara terputus dari telepon,”Tuuuuttt!
Ergipun langsung melesat menuju Mall KG dengan mengendarai sepeda motornya.
Sementara Dara baru menyadari kalau ia lupa bilang kepada Ergi untuk membawa uang. Kepalanya dipukul sendiri beberapa kali. Tini yang melihat gelagat Dara yang kebingungan menghampiri Dara.
“Ada apa sih? Pala bener-bener dikeplakin sendiri,”kata Tini.
“Dompet aku ilang,”jawab Dara.

    Tini langsung merogoh tasnya dan memberikan sebuah dompet berwarna coklat dengan gantungan di tengahnya kepada Dara,”Ini dompet kamu.”

Dara tercenang. “Kok bisa sama kamu, Tin?”tanya Dara sambil meraih dompet dari tangan Tini.
“Kan kamu sendiri yang nitip keaku, katanya takut ilang,inget gak?”tanya balik Tini.
“Ooh iya…aku lupa,”ujar Dara sambil tersenyum. 
“Udah jangan nyengir mulu, cepetan bayar. Entar kita ketinggalan filmnya. Tinggal beberapa menit lagi ini!”kata Tini sambil menunjukkan jam tangannya kearah Dara.
“Oke boss!”ujar Dara sambil membayar ke kasir.
“Terima kasih atas kunjungan anda,”kata pegawai kasir sebelum Dara dan Tini meninggalkan toko Asesoris.

    Dara dan Tinipun melesat bak roket yang meluncur ke luar angkasa. Beberapa saat kemudian Dara dan Tini tiba didepan pintu bioskop dengan napas terengah-engah. Dara memberikan karcis kepada pegawai yang stand by berdiri disamping pintu bioskop sebelum masuk kedalam.

    Setelah dipersilakan masuk, Dara dan Tini  langsung mencari nomor duduk mereka. Mereka mendapat urutan tempat duduk ditengah dengan nomor 4 G. Dara dan Tinipun melepas penat saat menemukan tempat duduknya. Disampingnya ada sepasang remaja yang duduk bersama mereka berdua.
“Sutt!”ujar Tini sambil menyikut lengan Dara.

    Dara yang sedang membenamkan matanya sejenak tersentak oleh senggolan tangan dari Tini,”Apaan sih?”tanya Dara kesal.
“Itu liat!”ujar Tini sambil tangannya menunjuk kesamping tempat duduknya.
“Gila ya...film belum dimulai, dia udah cium-ciuman. Bener-bener anak sekarang,”ujar dara menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Udah biarin aja mereka yang penting kita nonton oke. Eh…Dara! Tadi kamu ngubungin siapa? Pacar kamu ya?”tanya Tini.

Lagi-lagi Dara tercenang. “Ya ampun aku kok bisa lupa ya?”
“Jangan bilang kamu ketinggalan dompetnya?”
“Bukan! Tapi Ergi!”jawabnya.
“Ergi siapa?”tanya Tini.
“Ergi itu sahabat aku dari kecil. Dia orangnya baik, perhatian dan care banget sama aku. Kalau aku ada masalah, pasti dia bantuin aku dan seperti sekarang ini saat dompet aku ilang yang ada dikepala aku cuma minta bantuan sama dia. Jadi aku telepon dia buat kesini.”ujarnya panjang lebar.
“Cie…semangat banget ceritainnya. Ngomong-ngomong Ergi udah punya pacar belum?”tanya Tini.

    Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Tini membuat Dara tertawa,”Gimana mau punya pacar, orang kalau dideketin cewek, dia udah panas dingin.”
“Tapi sama kamu kok enggak?”tanya Tini.
“Iya juga tapi aah mungkin karena kita berdua dari kecil temenan.”
“Yakin?”
“Apaan sih!Udah aah…aku enggak mau bahas ini lagi,”ujar Dara.

    Saat film mulai diputar, ponsel Dara berdering. Dengan sembunyi-sembunyi Dara mengangkat telepon dari Ergi.
“Iya ada apa?”tanya Dara sambil membungkukkan badan.
“Aku udah sampai ditoko Asesoris, kamu dimana?”tanya Ergi.
“Aku ada diBioskop. Sebentar lagi aku kesana,”kata Dara yang langsung memutuskan telepon.

    Saat Dara ingin beranjak dari tempat duduknya, Tini menarik tangan kiri Dara,”Mau kemana?”tanya Tini sambil tangan kanannya memegang sebungkus popcorn yang masih rapi tertutup plastik putih trasparan.
“Ergi kesini, sekarang aku mau nyamperin dia di toko asesoris.”
“Ergi! Aku ikut dong!”pinta Tini.

    Tanpa membuang waktu, mereka berdua pergi meninggalkan bioskop. Tak lama kemudian dari kejauhan terlihat sesosok pria tinggi,berbadan kekar yang mengenakan celana jeas biru dangker berdiri membelakangi toko asesoris.

    Ergi ngapain kesini enggak pake baju? Dia pengen pamer ya? Punya badan kekar terus biar cewek-cewek terpesona sama dia? Iih sungguh menjijikan? Hatinya berbisik.

    Sebaliknya Tini yang melihat Ergi terpesona dengan ketampanan dan kejantanan Ergi. Mereka berdua mempercepat langkahnya. Saat jarak Dara satu meter dari posisi Ergi berdiri. Senyum lebar menghiasi wajah Dara dan Tini, saat melihat Ergi belepotan dengan oli di muka dan disekujur badannya.
“Kok kamu lekat sih! Datang kesini cuma pake jeas terus belepotan oli lagi,”ujar Dara.
“Ini semua ‘kan demi kamu. Apa sih yang enggak aku lakuin buat kamu?”
“Iih lebay deah!” Tapi makasih ya…kamu udah bela-belain dateng kesini buat aku. Eh…mana hp kamu?”tanya Dara
    Tanpa tanya lagi, Ergi langsung memberikan Hp yang digengam tangannya kepada Dara.

    Dara pun langsung mengambilnya dan mengaitkan gantungan yang baru dibelinya beberapa menit yang lalu. “Bagus kan?”tanya Dara sambil menunjukkan kearah Ergi.

    Tanpa respon dari Ergi, tiba-tiba Ergi membisikkan sesuatu ketelinga Dara,”Dara pinjem jaket kamu dong! Aku kedinginan nih dari tadi,”ujarnya

    Dara melotot kearah Ergi yang bertingkah seperti anak kecil sedang merengek meminta sesuatu,”Iih kamu ya!”geram Dara. “Kalau kamu bukan teman aku, udah aku pites pala kamu,”ujar Dara sambil memberikan jaketnya kepada Ergi.

    Tini tidak tahan lagi menahan tawanya, Iapun tertawa terbahak-bahak saat melihat Ergi mengenakan jaket perempuan persis seperti bencong pasar minggu yang sering mangkal dipinggir jembatan. Bukan Tini saja yang dibuatnya tertawa tetapi pengunjung lain tersenyum melihat Ergi yang melintas dihadapan mereka. Begitu juga Dara yang mencoba menahan tawanya.

***

    Dara pun mengibaskan lamunannya pergi bersama gumpalan awan hitam diluar sana. Tanpa pikir panjang, Dara berniat menemui Ergi. Dirinya sadar bahwa tanpa Ergi hidupnya tidak berwarna.

    Namun sesosok laki-laki yang tak asing lagi berdiri di depan pintu pagar rumah Dara. Dia adalah Ergi Sinamuara. Dara langsung berlari keluar menghampiri Ergi. Sesampainya di sana, mereka hanya saling menatap. Dara yang mengenakan kemeja putih dengan rok hitam pendek berdiri terpaku terdiam. Begitu juga Ergi. Derasnya hujan membuat tubuh Dara menggigil. Ergi langsung mendekap Dara kedalam pelukannya.

    Darapun tidak kuasa menolak pelukan dari Ergi. Ergi sangat mengenal Dara jadi tanpa menunggu lama, Ergi membisikkan sesuatu ditelinga Dara,”Maukah kamu menikah denganku?”

    Dara menjawabnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekejap Ergi melepaskan pelukannya dari tubuh Dara.

    “Akhirnya Dara menerima cintaku Tuhan!”teriak Ergi dengan semangat. Memang benar hujan membawa berkah, Apalagi hujan dibulan Januari.Terima kasih Tuhan, aku sayang padamu,”ujarnya dengan lantang.
    “Ergi aku sadar bahwa aku juga mencintaimu. Aku yakin bahwa kamu adalah belahan jiwaku. Terima kasih karena selama ini kamu selalu menjadi yang terbaik untukku dan…”kata-kata Dara terhenti saat sebuah ciuman mendarat dibibir seksinya.
    Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka berdua. Begitu juga Bunda Dara yang menyaksikannya dari dalam rumah.
    Terima kasih Tuhan atas kebaikan yang telah engkau berikan kepada putriku. Engkau telah mempersatukan dua anak manusia yang saling mencintai melalui hujan yang engkau kirimkan dibulan Januari ini! Hati bunda berdesir. Sebuah butiran halus menggenangi pelupuk mata Bunda. Bunda bahagia melihat Dara dan Ergi bersatu.

 By : AYU LESTARI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar